10 - Domba Kisar Betina

PEMELIHAARAN TERNAK BUNTING

Pemeliharaan betina bunting merupakan salah satu upaya penting
yang harus dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas ternak.
Pemeliharaan ternak bunting perlu lebih diintensifkan utamanya dalam
hal pemberian pakan dan perawatan (hindari dari terjatuh dan benturan
atau kondisi kandang yang kurang baik). Proses pemeliharaan
kebuntingan ini sangat penting karena embrio ternak cukup labil
utamanya pada umur kebuntingan muda.

Hasil penelitian Ayalon (1978) dalam Hunter (1995) menunjukkan kematian embrional pada umur 35 –42 hari pada domba mencapai 31%. Penelitian lain dari Toelihere (1981) menunjukkan bahwa kematian embrional dalam minggu pertama kebuntingan mencapai 25%. Kematian embrional ini disebabkan oleh
beberapa hal antara lain kondisi pakan, ketidakseimbangan hormonal dan beberapa penyakit seperti Vibriosis dan Bruchelosis (Toelihere,
1981). Alasan utama perlunya pemeliharaan betina bunting yang lebih insentif karena betina bunting tersebut merupakan penentu kualitas anakan yang akan dihasilkan.

Beberapa cara untuk memelihara ternak bunting adalah dengan
perbaikan pakan dan pemisahan induk bunting. Pakan menjadi salah satu faktor penting dalam pemeliharaan betina bunting karena dengan memberikan pakan yang baik akan memenuhi kebutuhan zat gizi untuk mendukung pertumbuhan anakan kambing domba ataupun kesehatan indukan.
Indukan juga membutuhkan pakan yang baik terutama untuk
mempertahankan kesehatan utamanya kesehatan tulang sekaligus digunakan untuk memproduksi air susu. Beberapa bahan pakan utama yang dibutuhkan oleh betina bunting antara lain adalah kandungan kalsium, asam amino essensial tertentu seperti lysin dan karbohidrat sebagai sumber energi.

Contoh formulasi ransum yang dapat diberikan pada betina bunting antara lain :

Hijauan 3 kg

  • Konsentrat :
  • Dedak Padi 0,5 kg
  • Jagung 0,5 kg
  • Garam dapur 1 sdt

Contoh formulasi ransum ini dapat digunakan hingga ternak betina tersebut melahirkan. Selain itu dapat juga diberikan beberapa bahan pakan berenergi tinggi seperti ketela pohon.
Induk harus dipisahkan untuk menghindari benturan ataupun
gangguan betina lain. Gangguan akan banyak terjadi apabila terdapat ternak yang dominan. Selain pemisahan, kondisi kandang juga harus diperhatikan, antara lain jarak bilah pada lantai sehingga dapat menurunkan resiko terperosok.

Sumber : amansurifarm

22687675_1211136029031129_7962407821135348619_n

PERTUMBUHAN PASCA-KELAHIRAN DOMBA

Seperti kebanyakan hewan pada umumnya, domba mengalami proses pertumbuhan yang sama, yakni berlangsung lambat di awal kemudian meningkat lebih cepat sampai domba berumur 3—4 bulan. Namun, pertumbuhan tersebut akhirnya kembali lebih lambat pada saat domba mendekati kedewasaan tubuh.
Pertumbuhan tercepat dialami hanya pada beberapa bulan pertama saja. Proses pertumbuhan ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan), iklim lingkungan, serta penanganan kepada domba itusendiri. Faktor keturunan lebih membatasi pertumbuhan dan besarnya tubuh yang dapat dicapai. Cara pemberian pakan dan pencegahan penyakit juga akan menentukan tingkat pertumbuhan dalam mencapai kedewasaan. Berikut adalah masa-masa pertumbuhan yang biasa terjadi pada domba.
1. Pertumbuhan awal
Pada saat domba lahir kepalanya relatif besar, kaki panjang, tubuh kecil. Namun, setelah domba itu mencapai kedewasaan maka proporsi tubuh menjadi serasi antara kepala dan kakinya. Proses pertumbuhan domba semenjak di dalam kandungan juga tidak serentak, melainkan masing-masing bagian tubuh mengalami laju pertumbuhan yang tidak bersamaan. Misalnya, kepala dan kaki tumbuh lebih awal dan bagian tubuh lain, seperti punggung dan paha akan tumbuh kemudian.
2. Pembentukan karkas
Pertumbuhan tubuh yang kemudian menjadi karkas terdiri atas tiga jaringan utama, yakni tulang pembentuk kerangka, urat pembentuk daging, dan lemak (fat). Ketiga jaringan ini tumbuh teratur dan serasi. Di antara ketiga jaringan tersebut, jaringan tulang tumbuh paling awal. Setelah itu, disusul oleh pertumbuhan urat yang menyelubungi kerangka. Walaupun jaringan lemak tumbuh paling akhir, tetapi pertumbuhannya paling cepat saat mendekati kematangaan tubuh.
Oleh karena itu, domba yang masih muda persentase tulangnya lebih tinggi, sedangkan persentase daging dan lemaknya rendah. Hal itu tidak sesuai dengan kondisi saat ini bahwa konsumen lebih menghendaki daging domba muda. Untuk itu, peternak harus memproduksi daging-daging domba muda, terutama umur 3—4 bulan. Caranya adalah dengan memberikan ransum yang tepat sehingga karkas mencapai proporsi maksimal.
Domba potong yang belum matang memiliki kandungan lemak yang sangat rendah. Sebaliknya, domba potong usia lanjut tubuhnya akan kelebihan lemak yang akan ditimbun di sekeliling alat pencernaan dan bagian pinggang. Sebagian akan memenuhi permukaan daging di bawah kulit yang membuat domba tampak gemuk dengan bentuk tubuh membulat. Kondisi semacam ini memberi kesan bahwa domba itu siap dipotong. Pertumbuhan tubuh domba secara keseluruhan dapat diukur dengan kombinasi antara pertambahan bobot dan besar badan. Besarnya badan domba dapat diukur melalui kriteria seperti lebar kemudi, lebar dada, dan kedalaman paha. Sehubungan dengan gelombang pertumbuhan ini, dikenal istilah “domba matang awal” dan “domba lambat matang “.
– Domba matang awal
Kelompok domba ini laju pertumbuhannnya sangat cepat dan memerlukan waktu pemeliharaan yang relatif singkat. Oleh karena itu, kelompok domba ini cocok untuk produksi daging sebagai ternak potong serta bisa digemukkan dan dijual lebih awal. Beberapa contoh domba ini antara lain southdown dan ryeland.
– Domba lambat matang
Kelompok domba ini memiliki laju pertumbuhan yang rendah sehingga memerlukan waktu yang lebih lama. Domba jenis ini kurang cocok untuk penggemukan dan memerlukan waktu lebih lama dan pakan dengan jumlah lebih banyak sehingga memerlukan biaya tinggi. Beberapa contoh domba ini antara lain lincoln, leicester, dan domba asli Indonesia.
Sumber: Buku Beternak Domba

MENGENAL JENIS DOMBA TEXEL WONOSOBO BESERTA CIRINYA.

Di Indonesia terdapat berbagai jenis domba dengan ciri dan kualitas masing-masing, salah satunya yaitu jenis domba texel Wonosoba atau sering juga disebut Dombos, mungkin ada dari kalian yang bertanya-tanya kenapa bisa dinamakan texel Wonosobo? sebenarnya domba tersebut bukan asli dari Wonosobo melainkan diperkembangbiakkan disana, awalnya Pemerintah mendatangkan 500 ekor domba texel dari Belanda pada tahun 1954/1955 dan domba-domba tersebut dialokasikan dibeberapa wilayah diantaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur namun daerah-daerah yang menampung domba tersebut tidak bisa menjadi tempat adaptasi yang baik kemudian pada tahun 1957 domba tersebut coba dipindahkan ke Wonosobo dan ternyata disana domba tersebut dapat berkembang biak secara baik sehingga pada tahun 2006 jumlah domba texel tersebut mencapai 8.753 ekor.

Jenis domba texel Wonosobo tersebut termasuk dala kategori domba potensial karena merupakan penghasil daging terbaik, bobot domba jantan dewasa bisa mencapai 100 kg sedangkan yang betina bisa mencapai 80 kg dengan karkas sekitar 55 %, karena itulah banyak masyarakat Wonosobo yang merintis usaha beternak domba persilangan texel dengan domba lokal dan menghasilkan keuntungan yang lumayan, Selain sebagai domba potong ternyata domba tersebut juga bisa menghasilkan bulu wool yang berkualitas sebanyak 1000 gram per ekor untuk setiap tahunnya. Di pedesaan Wonosobo juga telah dirintis usaha industri rumah tangga yang mengolah bulu wool hasil ternak mereka.

Domba texel itu sendiri memiliki ciri khas tersendiri sehingga mudah untuk membedakannya dengan jenis domba lain, diantaranya memiliki bulu wool yang keriting halus dengan bentuk spiral berwarna putih yang menyelimuti seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian bawah perut, kakinya serta kepalanya, domba ini juga memiliki postur tubuh yang tinggi besar, panjang dengan leher panjang dan ekor yang kecil. Domba ini juga termasuk cepat dalam berkembang biak, usia pertama kali saat mulai bisa beranak yaitu 15 bulan dan selanjutnya dapat melahirkan setiap 8 bulan sekali, untuk kelahiran anak pertamanya biasanya tunggal dan untuk kelahiran selanjutnya biasanya kadang-kadang kembar.

Permintaan akan domba texel dari luar daerah ini menjadi suatu kendala yang harus dihadapi, sebenarnya ini bisa menjadi pamor nilai harga domba itu sendiri sehingga bisa melestarikan para peternak domba texel namun bila permintaan semakin banyak bisa menjadikan pengurasan ternak yang perkembang biakkannya pun masih menjadi kendala sebab masih bergantung pada sistem kawin alamiah karena belum adanya produsen frozen semen domba tersebut.

Demikianlah informasi tentang jenis domba texel Wonosobo, semoga informasi ini bisa berguna dan bermanfaat untuk kalian semua, sekian dari saya dan terima kasih.