pakan kambing dengan fermentasi gedebog pisang

Bahaya Pakan Kambing Dengan Gedebok Pisang

Banyak peternak kambing indonesia kini berlomba-lomba memberi pakan kambing dengan fermentasi gedebog pisang yang diramu dengan obat-obat probiotik.

Hal tersebut tentu untuk membuat kambing menjadi lebih besar dan penjualan meningkat.

Tetapi hal tersebut ternyata memiliki dampak berbahaya bagi hewan ternak kita sendiri, mengapa?

 

Gedebok pisang adalah material pakan yang minim nutrisi dibandingkan pakan hijauan atau bisa diambil contoh yakni daun pisang itu sendiri, seperti yang diketahui kandungan protein kasar pada daun pisang relatif tinggi sehingga bagus untuk sapi. Sementara itu tingkat kecernannya juga tinggi mencapai 73.5%.

 

Komposisi Nutrisi Daun Pisang

  • Bahan Kering 23%
  • Protein Kasar 16.6%
  • Serat Kasar 23%
  • Lemak Kasar 1.5 %
  • TDN  73.5%

 

Bagaimana dengan kandungan nutrisi batang pisang?

  • Bahan Kering 7.5%
  • Protein Kasar 5.9%
  • Serat Kasar 26.6%
  • Lemak Kasar 2.2 %
  • TDN ???

 

Batang pisang kurang layak sebagai pakan sapi karena kandungan nutrisinya yang jelek, bagaimana dengan fermentasi gedebok pisang? Hal tersebut hanya dapat menjadi opsi sesekali dan bukan sebagai menu harian ternak, mengingat gizi dan nutrisi yang harus dimiliki melalui makanan yang sesuai dan seharusnya seperti daunan hijau.

 

Hal tersebut sudah pasti mempengaruhi kualitas daging karena mendapatkan kualitas makanan yang buruk dan tak menutup kemungkinan costumer anda akan menurun karena lama-kelamaan mereka menyadari kualitas daging atau hewan hidup yang mereka beli tidak berkualitas.

Semoga bermanfaat!

Dan sukses selalu !

 

Sumber :suksesternakkambing.com

 

#ternak #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetawa #saungdomba #saungdombainternasional #saungdomba #saungdombaaqiqah #saungdombaedupark #waroengdomba #vitamin #nutrisi #bergisi #jualdomba #dombasegar #dombasehat #domabberkualitas

Permintaan Daging Beku Impor

Serbuan Daging Beku Impor Kembali Datang Jelang Ramadhan, Benarkah Daging Beku Bakterinya Sudah Mati?

Jelang ramadhan umumnya kebutuhan konsumsi akan daging merah seperti daging sapi pada masyarakat Indonesia meningkat. Tak ayala efek ini juga berpengaruh pada meningkatnya harga jual daging sapi kiloan di pasar.

Untuk menangani hal ini, terdapat solusi yang ditawarkan oleh pemerintah dengan menyumplai daging impor beku. Hal ini dianggap dapat menurunkan harga jual daging dipasaran.

Faktanya harga murah ini hanya berlaku pada daging  beku yang diimpor dari luar negeri sementara produksi daging sapi lokal terus meroket.

Terlepas dari problematika harga daging yang melonjak beredar juga sebuah kabar bahwa daging beku yang diimpor tidak berbahaya dikonsumsi dan bakteri yang terdapat di dalamnya telah mati. Benarkah hal tersebut terjadi?

Fakta bahwa daging sapi impor beku tidak berbahaya untuk dikonsumsi adalah benar. Hal ini terbukti bahwa yang mengonsumsi daging beku ini cukup banyak di luar negeri.

Adanya daging beku bukan berarti lebih sehat dikonsumsi dan lebih baik dari daging segar. Dibeberapa negara maju mungkin banyak yang masyarakatnya mengonsumsi daging beku, hal terkait kebutuhan dan juga kondisi musim yang berbeda dengan negara kita pada umumnya.

Maka, tidak perlu rasanya negara kita terpaku pada negara yang memiliki konsumsi daging beku banyak selagi masyarakat dan peternak mampu unutk mengmbangkan produksi hewan ternak di negara yang subur makmur ini.

Pada poin kedua, perihal bakteri yang telah mati saat dibekukan dapat Anda sadari sendiri dari penjelasan singkat dibawah ini.

Ada beberapa cara untuk mematikan bakteri secara umum

  1. Disinari menggunakan sinar ultraviolet
  2. Disemprot cairan antiseptik seperti iodin, alkohol maupun sabun antiseptik

Dan pada makanan, cara umumnya dengan dipanaskan ( dimasak, dijemur atau  dibakar) dengan  suhu tinggi sehingga membran selnya mati.

Sementara dibekukan, bakteri sebenarnya hanya “terjaga dalam tidurnya”

Semoga bermanfaat !

#bakteridaging #dagingbeku #dagingbekuramadhan #amankahdagingbeku  #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

teknik pembesaran ikan gurame

Cara Pembesaran Ikan Gurame Yang Baik dan Benar

Hallo sobat agribisnis! Seperti pada pembahasan sebelumnya, bahwa disamping banyaknya keuntungan yang diperoleh saat melakukan budidaya ikan gurame terdpat juga beberapa kekurangan yang bisa menjadi kendala jika tidak ditangani dengan tepat.

Salah satunya dalam sistem pembesaran yang kita lakukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikan gurame termasuk ikan yang agak lambat pertumbuhannya dibandingkan dengan jenis ikan air tawar yang lain. Maka dari itu, dalam melakukan pembesaran gurame perlu adanya alat yang kita ketahui agar pembesaran berjalan optimal.

  1. Penebaran Benih

Jika kita menggunakan wadah kolam terpal untuk memelihara gurame sebaiknya kita menggunakan benih yang ukurannya seragam untuk mencegah adanya gurame kerdil karena kalah bersaing dalam memperebutkan makanan dengan gurame yang lebih besar.

Pertumbuhan gurame akan optimal bila dipelihara di daerah dengan ketinggian 20-5– m dpl. Di dataran tinggi (lebih dari 800 m dpl), pertumbuhan gurame semakin lamban karena pengaruh udara dingin.

Gurame sangat peka terhadap perubahan suhu air. Sebaiknya suhu air dijaga agar tetap stabil pada 25-28 Celcius. Untuk keasaman air (pH) yang ideal 6,5-7. Kandungan oksigen terlarut untuk gurame minimum 4-6 mg/liter.

Ukuran benih yang ditebar 7 ekor/meter kubik dengan ukuran 100 gr/ekor. Untuk menghasilkan gurame yang sebesar bungkus rokok atau 10-12 ekor/kg diperlukan waktu 75-100 hari. Benih sebesar ini sudah dapat dipanen kemudian dibesarkan lagi selama 90-100 hari hingga mencapai ukuran ikan konsumsi, yaitu 500 g/ekor.

 

  1. Perlakuan Benih

Sebelum ditebar, benih ikan dibersihkan dari hama dengan menggunakan garam dapur yang direndam dalam air sebanyak 10 g/liter air selama 15-30 menit. Kita dapat menggunakan larutan kalium permanganate (PK) 4 mg/liter air selama 30 menit.

Penebaran dilakukan pada saat cuaca tidak terlalu panas, bisa pagi atau sore hari.

Masukan benih ikan secara perlahan-lahan ke dalam kolam, biarkan ikan keluar sendiri dari wadah pengangkutan biar ikan tidak stres.

 

  1. Sistem Monokultur

Pada pembesaran secara monokultur, pemeliharaan gurame tidak dicampur dengan ikan jenis lain. Keuntungan dari sistem monokultur adalah hanya fokus pada satu jenis ikan saja, sehingga pertumbuhan gurame tidak terganggu oleh ikan jenis lain dengan padat penebaran yang optimal.

 

  1. Sistem Polikultur

Pembesaran gurame polikultur adalah pembesaran gurame dicampur dengan ikan jenis lain seperti nila, lele, mujaer, mas, dan lobster air tawar. Pemakaian sistem polikultur ini disesuaikan dengan kondisi perairan atau kolam yang kita miliki. Jika perairan atau kolam kaya dengan zooplankton maka ikan yang sebaiknya dicampur dengan gurame adalah ikan gabus. Sebaliknya, jika pada air tersebut banyak mengandung fitoplankton dan lumut maka alangkah baiknya jika pembesaran gurame dicampur dengan ikan kolam, tambakan, atau nilam.

 

Semoga bermanfaat !

 

(diolah dari berbagai sumber )

 

#gurame #pemeliharaangurame #budidayagurame #gurami #ikangurame #untungbudidayagurame  #catering  #hotel #restoran #rumahmakan #pasar  #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

Sapi Lemah

Paraplegia Postpartum, Kenali Sapi Ambruk Pasca Melahirkan

Ternak ambruk, peternak manapun pasti khawatir saat memiliki ternak yang tiba-tiba mengalami kejadian ini. Namun, tahukah Anda bahwa ternak ambruk banyak faktornya, salah satunya melalui pasca melahirkan atau dikenal dengan nama kedokteran dengan sebutan paraplegia psotpartum.

Downer Syndrom atau Paraplegia Post Partum merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada induk hewan yang sedang bunting tua atau beberapa hari sesudah partus yang memyebabkan sapi tidak dapat berdiri, tetapi selalu dalam keadaan berbaring pada salah satu sisi tubuhnya karena adanya kelemahan pada bagian belakang tubuh.

Berberapa faktor yang dapat menjadi penyebab juga beragam, berikut beberapa diantaranya :

  1. Adanya kelemahan badan akibat menerima beban terlalu berat, mis : bunting dengan anak yang terlalu besar, anak kembar, induk yang menderita hidrop allantois
  2. Patah (frakture) tulang femur, sakrum, atau lumbal dan melesatnya (luxatio) pada persendian panggul
  3. Adanya benturan (contusio) pada otot di bagian tubuh sebelah belakang waktu berbaring atau menjatuhkan diri, sehingga ada kerusakan urat daging atau tulang pelvisnya
  4. Adanya osteomalasia karena defisiensi vitamin D (5) pembendungan pembuluh darah pada kaki belakang sehingga menimbulkan gangguan peredaran darah.
  5. Defisiensi Kalsium

Untuk gejala yangumumnya diketahui, antara lain :

  • Secara tiba-tiba induk hewan yang baru saja melahirkan terlihat jatuh dan tidak dapat berdiri karena adanya kelemahan di bagian belakang badannya, gejala ini bisa terlihat 2-3 hari sebelum partus.
  • Keadaan umum dari tubuhnya tidak terganggu, sensitivitas urat daging paha masih baik, induk berbaring saja tanpa terlihat gejala-gejala kesakitan.
  • Induk sering berusaha berdiri, kalau berdiri mencoba berjalan sempoyongan, kaki depan dan leher tetap kuat hanya bagian tubuh sebelah belakang yang lemah.

Usahakan untuk memberikan penanganan  tepat pada ternak yang mengalami ambruk. Adapunsaat melahirkan wasapadai dan amati kelahirannya apabila muncul gekjala-gejala yang tidak diinginkan. Semoga bermanfaat !

(diolah dari berbagai sumber )

#ternakambruk #ternakuntung #hijauansegar #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

Domba Merino

Mengenal Domba Merino, Peluang Masih Terbuka Lebar Di Indonesia

Menyebut soal Domba Merino, maka yang akan terlintas dipikiran kita adalah domba yang hidup di daerah yang memiliki 4 musim dan pengasil bulu terbaik.

Namun, bagaimanakan asal-usul domba merino sebenarnya? Dan bagaimana potensi peternakannnya di Indonesia?

Domba merino berasal dari daerah Asia kecil. Domba ini berkembang baik di Spanyol, Inggris, dan Australia.  Namun, ada yang menyebutkan domba merino berasal dari Spanyol. Domba merino terkenal sebagai domba penghasil wol terbaik dengan panjang bulu mencapai 10 cm. Pada saat bulu mencapai 10 cm, produksi wol dapat mencapai 10 kg wol/ekor.

Kuliatas bulunya ini digadang- gadang menjadikan merino diunggulkan pada kelasnya. Sayangnya merino kurang tepat hidup di iklim panas dan terlalu lembab, sehingga domba ini kurang cocok diternak di daerah tropis seperti Indonesia.

Walaupun kurang cocok hidup di Indonesia potensi pada hewan ini berkembang dan diternak masih bisa. Domba merino dapat hidup di daerah Indonesia yang memiliki suhu relatif rendah seperti di daerah pegunungan.

Walau tidak diunggulkan untuk menghasilkan bulu, pengembangbiakannya di Indonesia masih menjanjikan pada sektor hewan ternak pedaging.

Ya, sudah diketahui bahwa komoditas domba di Indonesia mudah dipasarkan di Indonesia. Seiring dengan kesadaran masyarakat muslim, melaksanakan ibadah Qurban dan Aqiqah. Adanya restoran yang menyajikan menu olahan daging domba pun kian menjamur di Indonesia.

Hal ini yang membuat nilai penjualan domba cenderung meningkat dari tahun ketahun. Seperti yang sudah dikatakan di atas. Keunggulannya pada kuantitas daging yang tinggi pada domba merino ini tidak main-main, yakni mencapai bobot 90 kg. Berat bersih daging yang didapat setelah pemotongan sekitar sepertiga sampai seperempat bobot hidupnya.

Contoh daerah yang telah menerapkan ternak domba merino adalah kota Wonosobo, Jawa Tengah. Peternak disana berhasil mengembangbiakan domba merino karena iklim hidup yang memang sesuai dengan kebutuhan domba, tentunya hal ini menjadi keuntungan bagi peternak disana.

Di lain sisi, tepatnya daerah Bantul, Yogyakarta contohnya. Mereka juga mencoba beternak domab ini namun hasilnya tidak maksimal karena iklim yang memang tidak sesuai.

Maka, peluang dari usaha domba merino di Indonesia masih ada asalkan dikembangbiakan di tempat bersuhu rendah atau dingin, semoga bermanfaat! salam sukses sobat agribisnis! (nal)

(diolah dari berbagai sumber )

#ternakuntung #hijauansegar #pakanternak #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

pakan-ternak-silase

Pakan Berkualitas Sepanjang Tahun, Awetkan Hijauan Pakan Dengan Teknologi Silase

Hijauan merupakan sumber serat utama bagi ternak ruminansia. Kendala utama dalam penyediaan hijauan adalah ketersediannya yang tidak tetap tergantung musim. Pada saat musim hujan, produksi hijauan pakan melimpah serta sebaliknya pada musim kemarau.

Hal ini tentunya menyulitkan para peternak untuk mendapatkan hijauan yang berkualitas sepanjang tahun. Pengolahan dan pengawetan hijauan pakan menjadi salah satu alternatif untuk penyediaan hijauan sepanjang tahun dengan tetap mempertahankan kualitas nutrisi hijauan tersebut.

Teknologi silase telah banyak digunakan oleh peternak di dunia untuk mengawetkan pakan hijauan. Silase adalah pengawetan hijauan pakan atau limbah pertanian dalam keadaan segar melalui proses fermentasi dalam silo.

Proses fermentasi yang terjadi selama proses silase disebut ensilase, sedangkan tempatnya disebut silo. Prinsip dasar pembuatan silase adalah terciptanya kondisi yang anaerob. Kecepatan tercapainya kondisi anaerob dan terbentuknya asam laktat dalam silo sangat menentukan kandungan gizi silase. Semakin banyak oksigen di dalam silo, menyebabkan proses respirasi semakin lama sehingga kandungan gizi semakin menurun. Fermentasi akan terhenti disebabkan oleh habisnya substrat gula untuk proses fermentasi dan dapat terus bertahan selama beberapa tahun sepanjang silase tidak kontak dengan udara.

 

Proses ensilase dibagi menjadi 4 tahapan yaitu sebagai berikut.

  1. Fase Aerobik : Fase ini hanya berlangsung beberapa jam dengan mengurangi oksigen dalam silo
  2. Fase Fermentatif : Fase ini dimulai ketika silo bersifat anaerob. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa minggu. Pada fase ini terjadi pengasaman yaitu adanya bakteri asam laktat (BAL) dalam pakan untuk mengubah gula menjadi asam laktat kemudian pH turun menjadi 3.7-5.0. Bakteri yang sensitif terhadap pH rendah menjadi tidak aktif. Pengasaman merupakan langkah kunci dalam pembuatan silase.
  3. Fase Stabil : Setelah pengasaman selesai, hanya sedikit perubahan yang terjadi selama silo tetap anaerob. Jumlah mikroorganisme terus menurun pada pH rendah, beberapa diantaranya tetap aktif (misalnya L. buchneri), sementara yang lain tetap tidak aktif seperti clostridia dan bacilli yang dapat bertahan hidup sebagai spora.
  4. Fase Pengeluaran : Ketika silo dibuka, udara masuk ke dalam silo dan mikroorganisme aerobik menjadi aktif kembali seperti jamur dan bakteri pembusuk.

 

Kualitas silase dipengaruhi oleh kadar air, tingkat kematangan hijauan, ukuran partikel bahan, penyimpanan saat ensilase, dan pemakaian aditif. Untuk meningkatkan kualitas produk hasil fermentasi sering ditambahkan bahan pemicu atau penghambat fermentasi baik berupa bahan kimia seperti asam dan alkali maupun zat aditif mikrobiologis dan bahan aditif kimia.

Bahan aditif kimia yang sering digunakan adalah asam format dan NaOH, sedangkan bahan mikrobiologis umumnya berupa khamir dan bakteri atau enzim yang dihasilkan dari kedua komponen mikrobiologis tersebut. semoga Bermanfaat. (IFR/NAL)

 

Penulis : Ierera Frida Rahmadena, seorang mahasiswa aktif Institut Pertanian Bogor jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Ingin menghubungi Ierera, dapat melalui email iererafrde@gmail.com.

 

#fermentasipakan #silasepakan #pakanternak #konsentrat #pakanhijauan #ternakuntung #hijauansegar #pakanternak #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

Bisnis-peternakan-domba

Tingkatkan Produktivitas Ternak Dengan Pemilihan Pakan Yang Tepat!

Pakan Ternak – memiliki ternak yang mempunyai tingkat produktivitas tinggi tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Sayangnya sebagai peternak kadang kita masih bingung antara memberi pakan konsentrat atau hijauan terlebih dahulu. Untuk itu kali ini kita akan membahas mengenai metode pemberian pakan tersebut.

Teknik pemberian pakan yang baik dan benar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak kambing dan domba, dimana hasil yang maksimal menjadi tujuan setiap peternak.  Pemberian pakan pada domba dan kambing tidak terbatas hanya pada pemilihan jenis pakan saja. Namun, peternak juga harus mempertimbangkan hijauan dan konsentrat beserta metode dan waktu pemberiannya.

Pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari pakan hijauan dan konsentrat agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Hijauan merupakan bahan pakan yang mengandung serat kasar tinggi yang dibutuhkan untuk memperlancar dan menjaga fungsi normal saluran pencernaan ternak ruminansia. Sementara itu, konsentrat merupakan bahan pakan penguat yang mengandung sejumlah nutrisi yang mudah dicerna.

Pemberian pakan hijauan dan konsentrat harus berimbang. Hijauan sebagai sumber serat sangat dibutuhkan oleh ternak, tetapi kandungan serat kasar yang terlalu tinggi pada ransum akan menghambat pencernaan pakan di dalam saluran pencernaan. Serat kasar dibutuhkan oleh ternak ruminansia untuk membantu memproduksi saliva (air liur) lebih banyak.

Saliva merupakan cairan yang bersifat basa yang memiliki fungsi buffer (penyangga) di dalam rumen. Pemberian konsentrat yang terlalu tingi juga tidak dibenarkan karena dapat menurunkan pH di dalam rumen, hal ini dapat menyebabkan asidosis(terlalu banyak asam) jika tidak diimbangi dengan hijauan. Menurut hasil penelitian Yogyantara yang dimuat dalam Majalah Ilmiah Peternakan Volume 17 Nomor 3 Tahun 2014, pemberian level konsentrat untuk kambing sebaiknya 45-75%.

Jarak waktu antara pemberian konsentrat dan hijauan sebaiknya diatur supaya mampu memberikan tingkat kecernaan pakan yang lebih baik. Konsentrat sebaiknya diberikan terlebih dulu sebelum hijauan. Konsentrat yang diberikan 2 jam sebelum pemberian hijauan akan meningkatkan kecernaan pakan secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena konsentrat yang kaya kandungan pati sebagian besar sudah dicerna oleh mikroba rumen pada saat hijauan mulai masuk ke dalam rumen. Sifat konsentrat yang mudah dicerna dan berkadar pati tinggi ini dapat memacu pertumbuhan mikroba rumen. Jika konsentrasi mikroba rumen meningkat, fermentasi dalam rumen juga meningkat. Dengan demikian hijauan yang dimakan setelahnya diharapkan mampu tercerna lebih baik.

Pemberian hijauan dan konsentrat dalam waktu yang bersamaan dalam rumen akan mengurangi kecernaan hijauan. Hal ini terjadi karena mikroba dalam rumen mempunyai kecenderungan untuk mencerna konsentrat lebih dahulu karena konsentrat lebih mudah dicerna daripada rumput. Dengan demikian, jarak waktu pemberian pakan perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi pemborosan pakan yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi.(IFR/NAL)

 

Semoga bermanfaat!

Penulis : Ierera Frida Rahmadena, seorang mahasiswa aktif Institut Pertanian Bogor jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Ingin menghubungi Ierera, dapat melalui email iererafrde@gmail.com.

 

#pakanuntung #pakanternak #konsentrat #pakanhijauan #ternakuntung #hijauansegar #pakanternak #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

Sapi-kembung

Cara Praktis Mencegah Dan Menangani Bloat Atau Ternak Kembung

Ternak kembung – Bloat atau kembung merupakan kelainan metabolis yang banyak dialami ternak khususnya ruminansia. Penangan dan tindakan pencegahan bloat penting dilakukan agar produksi ternak dapat optimal.

Selain itu, penanganan terhadap penyakit ini perlu diketahui karena bloat merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak terjadi pada ternak di Indonesia. Adapun sebelum meninjau apa saja upaya pencegahan dan penanganan yang dapat dilakukan, terlebih dahulu kita harus mengetahui ciri dari ternak yang mengalami bloat atau kembung.

Ciri Ternak Terjangkit Bloat

  1. Terjadi pembesaran yang abnormal pada perut bagian kiri tempat rumen berada
  2. Ternak memiliki posisi berdiri dengan tubuh yang bertumpu pada sisi kiri akibat perut yang sakit
  3. Terdapat benjolan dan memar pada kaki bagian belakang yang merupakan respon biologis dari ternak
  4. Ternak merasa tidak nyaman yang ditunjukan dengan beberapa aktivitas tertentu seperti menghentakkan kaki dan berteriak kesakitan
  5. Nafsu makan menurun
  6. Intensitas urinasi dan defekasi meningkat
  7. Ternak sulit bernafas
  8. Ternak akan terjatuh dan sulit berdiri kembali apabila bloat yang dialami sudah akut. Kondisi ini akan cepat menyebabkan kematian pada ternak.

Terdapat beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan dalam upaya mencegah terjadinya bloat. Tindakan preventif atau pencegahan merupakan hal yang utamanya dilakukan pertama kali oleh peternak agar menghindari risiko ternak terkena bloat. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya bloat:

  • Perbaikan manajemen pemberian pakan yang dapat dilakukan dengan memerbaiki rasio hijauan dan konsentrat yang diberikan serta tidak menggunakan hijauan yang terindikasi mampu menyebabkan bloat.
  • Penyesuaian adaptasi fisiologis ternak secara bertahap untuk ternak feedlot agar mikroorganisme rumen mampu menyesuaikan kecepatan dalam mencerna pakan yang diberikan.
  • Penambahan buffer dapat pula diaplikasikan untuk ternak feedlot agar menjaga pH rumen.
  • Hindari penggunaan hijauan dengan kadar air tinggi karena memiliki risiko tinggi menyebabkan bloat. Lebih baik apabila ternak diberikan hijauan yang sudah dikeringkan.
  • Pemberian anti-foaming agent sebanyak dua kali sehari guna memecah struktur busa yang terbentuk sehingga gas dapat keluar. Anti-foaming agent yang umum diberikan adalah dalam bentuk minyak nabati yang dapat ditambahkan langsung dalam hay.
  • Penambahan suplemen atau molases blok yang mengandung anti-bloat seperti ionofor.

Adapun apabila ternak sudah terindikasi menunjukan gejala bloat maka beberapa tindakan penanganan ini dapat dilakukan guna meminimalisir risiko kematian.

  • Pemberian minyak kelapa yang dicampur dengan air hangat sebagai anti-foaming agent. Selain minyak kelapa, dapat pula menggunakan linseed oil atau jenis minyak nabati lain.
  • Penggunaan stomach tube sebagai upaya pengeluaran gas.
  • Menempatkan kaki depan ternak pada suatu gundukan sehingga kaki depan ternak berkedudukan lebih tinggi dibanding kaki bagian belakang yang dilakukan agar posisi esofagus lebih mudah dalam membantu proses pengeluaran gas.
  • Mengajak ternak untuk berolahraga ringan seperti berjalan-jalan kecil
  • Membenamkan tongkat kecil atau tali pada bagian mulut ternak guna merangsang salivasi sehingga busa yang terbentuk dalam rumen dapat terpecah.
  • Penggunaan trokar yang ditusukan ke bagian atas perut kiri setelah tulang rusuk sedalam 2.5 cm dapat menjadi pilihan terakhir apabila ternak sudah mengalami bloat akut.

Semoga bermanfaat !

Penulis : Fandini Meilia Anjani

Editor : Nurul Aprillianti

Indigofera

Indigofera sp. Pakan Ideal Untuk Ternak Kambing dan Domba

Pakan ideal- Salah satu hal yan paling utama dalam menunjang kesuksesan usaha adalah hijauan pakan yang digunakan. Hijauan pakan  yang cukup terkenal oleh masyarakat akhir-akhir ini adalah  tanaman legum atau Indigofera sp., nama Indigofera sp.  berasal dari pigmen yang dimiliki pada bunganya yaitu ‘indigo’.

Tanaman ini tergolong dalam jenis tanaman sedang yang memiliki tinggi sekitar 1.5 – 2 m pada umur 2 tahun, memiliki cabang serta daun yang lebat disetiap cabangnya, warna bunga khas ungu, dan dapat tumbuh baik pada daerah sampai ketinggian 1200 m dari permukaan laut.

Indigofera sp. kaya akan protein, kalsium, dan fosfor. Ketika berumur satu tahun tanaman ini sudah dapat dipanen. Kandungan yang didapat yaitu berupa protein kasar sebesar 23.20%, fosfor sebesar 0.83%, dan kandungan kalsiumnya sebesar 1.23%. Berdasarkan data kandungan tersebut tanaman Indigofera sp. dapat  dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing atau domba yang ideal dan berkualitas.

Selain itu keunggulan lain dari tanaman ini adalah memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap musim kering, genangan air, dan salinitas sehingga ketersediaannya dapat terjamin. Murah dan mudah budiyanya membuat Indigofera sp. disebut sebagai tanaman masa depan.

Kandungan protein tinggi yang dimilikinya dapat memenuhi kebutuhan unsur N yang dibutuhkan ternak kambing atau domba. Kandungan serat yang cukup rendah dan tingkat kecernaannya yang cukup tinggi kurang lebih 77% sangat cocok untuk menjadi pakan khususnya kambing atau domba yang sedang produksi susu. Indigofera sp. memiliki kandungan antinutrisi tanin yang sangat rendah yaitu sekitar 0.6 – 1.4 ppm.

Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa tanaman Indigofera sp. tidak memiliki antinutrisi karena sangat sedikit kadar tanin yang dimilikinya. Selain itu, Indigofera sp. memiliki tingkat palatabilitas atau daya suka yang sangat tinggi pada ternak domba atau kambing. Seakan-akan dinomor satukan, Indigofera sp. memang pantas dijuluki sebagai tanaman pakan ideal masa depan sebab keunggulannya dalam nutrisi dan kemudahan dalam budidayanya.

Penulis : Eko Lela Fitriana

Editor : Nurul Aprillianti

#indigoferasp #pakanternak #hijauanpakan #hijauansegar #pakanternak #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia

pakan ternak naikkan omset

Hijauan Pakan Ternak, Bukan Hanya Soal Rumput Segar. Siapa Sangka Hasilnya Menaikan Omset Penjualan!

Rumput adalah pakan ternak alami terbaik bagi ternak ruminansia. Pakan yang baik tentu dapat menentukan kualitas ternak yang dikembangbiakkan. Dengan hasil akhir yang tentunya berdampak pada harga jual ternak yang tentunya semakin meningkat.

Tahukan Sobat Agribisnis? peternak kecil hingga usaha peternakan besar tidak akan berjalan sukses tanpa adanya hijauan. Bahkan pemberian pakan didominasi oleh hijauan sekitar 50 – 70%.

Istilah hijauan mulai familiar ditelingan masyarakat karena wujud fisik rumput segar yang berwarna hijau. Sebenarnya, hijauan digolongkan menjadi rumput dan leguminosa. Jika ditinjau dari pengolahannya, hijauan dapat dibagi menjadi 3 yaitu hijauan segar, hijauan kering (hay), dan hijauan yang difermentasi (silase).

Beberapa jenis rumput yang sering diberikan kepada ternak kambing atau domba diantaranya adalah rumput raja, rumput lapang, rumput odot, dan lain-lain.  Beberapa tumbuhan leguminosa yang sering diberikan yaitu gamal, lamtoro, turi, dan lain-lain.

Mengapa hijauan begitu penting dalam usaha berternak kambing maupun domba? Perlu diketahui bahwa selain sebagai sumber serat hijauan mempunyai peran penting dalam menjaga fungsi rumen tetap optimal.

Sebagai serat berupa selulosa dan hemiselulosa, hijauan menjadi sumber energi bagi mikroba rumen. Mikroba rumen memiliki peran yang penting dalam kecernaan pakan melalui proses fermentasi. Adanya mikroba yang menjadikan salah satu karakteristik sistem pencernaan ternak ruminansia (kambing dan domba) dengan ternak nonruminansia.

Jika mikroba rumen mati dan menyebakan penurunan jumlah mikroba secara signifikan di dalam rumen maka akan menyebabkan pH rumen berubah menjadi asam dan berdampak pada kematian kambing atau domba.

Rasio pemberian hijauan pakan lebih tinggi pada kambing atau domba perah dibandingkan dengan jenis pedaging. Berdasarkan beberapa penelitian, hijauan dalam pakan dapat menghasilkan CLA (conjugated linole acid) pada daging dan asam lemak  pada susu lebih tinggi sehingga produk lebih sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, dampak dari tingginya kadar lemak susu akan disertai dengan semakin tingginya harga jual susu tersebut.

Tentu saja, produksi CLA bergantung dengan kualitas hijauan yang diberikan. Tidak hanya menjaga kesehatan, hijauan yang berkualitas baik akan memberikan hasil performa kambing atau domba yang optimal dan produk yang berkualitas baik.

Masih ragu untuk meningkatkan kualitas pakan? Yuk tingkatkan kulitas pakan dan majukan ternak  domba kambing sekarang dengan omset yang menguntungan. Semoga bermanfaat !

 

Penulis : Eko Lela Fitriana

Editor : Nurul Aprillianti

#pakanhijauan #silase #hijaunakering #hijauansegar #pakanternak #omsetmeningkat #solusieduagro #kabarpeternak #agrobisnis #agribisnis #pakankambing #peternakankambing #peternakandomba #kambingetaw #peternalandal #pernakindonesia  #banggajadipeternak #eduagro #eduagroindonesia