Sobat Eduagro, beberapa tahun terakhir ini mungkin telah dikenal cara lain beternak lele dengan cara bioflok. Sebagian peternak ada yang merasa pembudidayaan ikan lele dengan cara sebelumnya lebih merugikannya dan mempunyai pemikiiran untuk mengganti cara beternak lain. Namun, sebaliknya ada yang sudah mencoba beternak bioflok dan ingin menyerah karena metode yang dipakai gagal.

Untuk itu eduagro akan memaparkannya lebih jelas. agar anda bisa lebih bijak dalam mementukan langkah lebih bijak dalam bisnis ternak lele anda.

Awalnya teknologi bioflok adalah sebuah teknologi yang digunakan dalam pengolahan limbah. Dalam proses pengolahan limbah, bahan organik berupa limbah lumpur harus terus diaduk dan diaerasi. Tujuannya agar limbah selalu dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat diuraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik.

Keharusan pengadukan dan aerasi dalam pengolahan limbah ini dikarenakan bahan organik yang mengendap akan menimbulkan kondisi anaerob yang dapat merangsang bakteri anaerob untuk mengurai bakteri anorganik menjadi senyawa yang lebih sederhana dan beracun berupa ammonia, Nitrit, H2S, dan Metana.

Teknologi bioflok yang sejatinya digunakan dalam pengolahan limbah ini kemudian coba diterapkan di Thailand dalam budidaya ikan nila, yang pada perkembangannya kemudian diterapkan pula dalam budidaya udang. Teknologi ini kemudian banyak diterapkan oleh negara-negara maju seperti Jepang, Brasil, Australia dll. Sementara penerapan teknologi bioflok dalam budidaya ikan di Indonesia belum lama dikembangkan.

Sedangkan budidaya lele sistem bioflok adalah sistem budidaya lele dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya lele itu sendiri. Dengan menumbuhkan mikroorganisme, limbah budidaya ikan lele akan menjadi gumpalan-gumpalan kecil (flok). Gumpalan-gumpalan yang terdiri dari berbagai mikroorganisme air seperti bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus, kemudian akan menjadi makanan-makanan alami ikan. Proses penumbuhan mikroorganisme tersebut dilakukan dengan memberikan kultur bakteri nonpathogen (probiotik) dan memasang aeratoer yang akan menyuplai oksigen serta mengaduk kolam.

 

Kekurangan Sistim Bioflok

  • Tidak bisa diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena tidak ada/sedikit pergantian air.
  • Memerlukan peralatan/aerator cukup banyak sebagai suply oksigen.
  • Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari).
  • Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia.
  • Bila aerasi kurang, maka akan terjadi pengendapan bahan organik. Resiko munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah.
  • Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi). Jadi dasar harus benar-benar padat (dasar berbatu / sirtu, semen atau plastik HDPE).
  • Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis oksigen (BOD tinggi).
  • Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur. Bila telah mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan diturunkan.

Kelebihan Sistim Bioflok

  • PH relatif stabil pH 7 – pH 7,8
  • PH nya cenderung rendah, sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif kecil.
  • Tidak tergantung pada sinar matahari dan aktivitasnya akan menurun bila suhu rendah.
  • Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity (keamanan) terjaga.
  • Limbah tambak (kotoran, algae, sisa pakan, amonia) didaur ulang dan dijadikan makanan alami berprotein tinggi
  • Lebih ramah lingkungan.

Pada hakikatnya setiap bisnis memiliki keuntungan dan kelemahannya masing-masing. Akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita sebagai penggiat usahaternak lele harus lebih bijak dalam mencari solusi dan mengetahui potensi melalui kelemahan dan kelebihan itu sendiri. Semoga bermanfaat!

Sumber : beritaorganik.com

Eduagro Indonesia
www.eduagroindonesia.com
Facebook : Eduagro Indonesia
Instagram : eduagro.id
Nomer TLP : 021 786 3834
WA/SMS : 0857-7372-8381